Selasa, 12 Februari 2019

satu pasang

oh, ya, keinginan untuk memiliki partner, untuk membagikan 1001 jenis emosi, perjuangan, pemikiran, dan kebutuhan fisik (apapun interpretasinya) kepada seseorang yang kaupercaya, agaknya memang tertanam dalam di pikiran kebanyakan orang. 

sudahlah, tidak usah munafik. aku tahu, besar kemungkinan kau pun menginginkan 'si dia' itu.

ah, tidak apa-apa. aku pun begitu.

aku ingin bisa membagikan perasaanku pada seseorang di sana entah siapa, ingin menceritakan perjuanganku, ingin mendiskusikan tentang gemintang dan awanku, ingin menangis dan didengarkan. aku pun ingin tersenyum, lalu disenyumi balik.

tapi ternyata menjadikan itu realitas tidak semudah memimpikannya, bukan?

yang aku baru sadari akhir-akhir ini: ternyata ... aku sulit menerima orang lain.

ada zona suci di dalam diriku, zona yang hanya aku sendiri bisa jamah, zona dengan dimensi yang berbeda dengan dimensimu dan dimensi triliunan orang lainnya. dan aku ... belum pernah mampu, dengan ikhlas, mengizinkan siapapun memasukinya. siapapun. siapapun.

dan ini menjadi masalah, ketika data mengatakan bahwa orang yang aku sukai dapat dengan mudah memasuki zona itu, tanpa dia mencoba barang sedikit pun.

lalu aku pun merasa tidak nyaman. merasa terekspos. merasa terlalu "telanjang" dan rawan akan bahaya.

lalu aku mencoba untuk menjauh.

lalu aku mengeluh lagi, tentang bagaimana aku yang seorang ingin menjadi sepasang dengan dia yang aku percaya.

namun kali ini dengan kesadaran, bahwa itu lebih sulit dari yang aku kira.

---------

apakah hidup bekerja secara acak?

aku tidak tahu. kau tidak tahu secara pasti. tidak ada yang benar-benar tahu.

tapi, aku ingin percaya itu.

karena beberapa jam lalu, buku catatan teman sekelasku berkata begini padaku:

"manusia merasa kesepian karena mereka membangun dinding tinggi di tempat di mana seharusnya mereka membangun jembatan-jembatan."

naif sekali kalau aku bilang, "kata-kata itu mengubahku! sekarang aku dapat menerima orang lain dengan lapang dada."

bullshit itu namanya.

tapi aku jadi sadar, selama ini aku telah membangun dinding yang sangat tinggi. lalu muncul pertanyaan, bagaimana caranya aku dapat membangun dinding setinggi ini?

-----------

tldr; anak umur 21 tahun lagi galau tentang pasangan hidup. dah gak usah diambil pusing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar