dia sudah terbiasa mencipta Dewi paling juita senirwana. Dewi itu menyinari kersang bumi dengan selendang emas yang melenggang di panggul, dengan liuk bibir yang paling candu sejagatraya. Dewi membuat siapa saja yang melihatnya mencinta. Dewi mencekik manusia dengan renjana terlewat azmat.
Meski begitu Dewi hanya onggokan dusta.
Jemari lentiknya diam-diam mengepal, membawa puing hati dia yang sudah lapuk sejak lama di balik tulang dada.
Dewi sejatinya hanyalah jelmaan frasa demi frasa yang dia rangkai menjadi sederet prosa. Prosa dengan tema patah hati, dengan tema kekecewaan, dengan tema amarah luar biasa. Dewi adalah rangkaian kata yang mengindahkan satu sama lainnya.
dan dia bukannya gemar menulis, dia hanya ingin menyulap kehidupan.
lihat, lihat!
jelitanya sang Dewi, meski teduhnya menyamarkan motif pilu luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar