kamu, bagiku, adalah setengah kirana yang sedang bersembunyi di balik mega terkelabu sejagat raya.
kamu adalah setengah dari segalanya yang elok.
ketika presensimu eksis pada visualku, ketika distansi hanya terpaut satu jengkal--kamu tahu? logika tidak lagi punya andil dalam segalanya yang aku. mantik? aku tidak tahu apa itu. yang aku mafhum, ragaku hanya sedang memilu karena renjana supermasif tengah tertahan di pangkal tenggorokan. itu, adalah rasa hatiku padamu (yang kuat-kuat aku teguk kembali sampai ke jantung).
kamu adalah setengah dari apapun yang bukan manusia.
kontrolmu di atasku sudah melebihi kadar wajar; menurut pemikiran bawah sadarku, kamu boleh jadi merupakan entitas mortal nomor satu yang pernah ada dan mendominasi.
kamu tahu? aku selalu ingin menjadi wanita yang mandiri, yang kuat, yang mampu segalanya sendiri. namun kamu berbeda, kamu tentu adalah eksepsi. untukmu, aku ingin menjadi submisif.
kamu tahu? keras kepala adalah sebagian dari aku, dan aku adalah sebagian dari keras kepala. keras seperti batu, keras seperti berlian. pernahkah aku mengalah? tidak, tidak pernah sejauh menurutku itu benar. namun, kamu, sekali lagi, adalah eksepsi. untukmu, aku ingin menjadi taat dan penurut, aku ingin menjelma tak ubahnya pelayan yang lemah lembut.
untukmu, hanya untukmu. hanya kamu.
mungkin memang benar adanya. akhir-akhir ini, aku merasa konstruksi-konstruksi sosial tentang wanita itu mungkin benar adanya. ternyata, aku memang ingin menjadi penyayang, bila yang disayang itu adalah kumpulan noktah personalitasmu, cacatmu, liukan senyummu. ternyata, aku memang ingin menjadi penjaga, bila yang dijaga itu lahir dan batinmu.
mungkin memang benar adanya. akhir-akhir ini, aku merasa konstruksi-konstruksi sosial tentang wanita itu mungkin benar adanya. ternyata, aku memang ingin menjadi penyayang, bila yang disayang itu adalah kumpulan noktah personalitasmu, cacatmu, liukan senyummu. ternyata, aku memang ingin menjadi penjaga, bila yang dijaga itu lahir dan batinmu.
sayangnya, kamu hanya setengah dari hamparan realitasku.
karena separuh lagi seharusnya adalah tanggung jawabku, usahaku untuk membawamu padaku. separuh lagi, kelulunya merupakan sewujud kata-kata sarat akan afeksi yang aku nyatakan padamu dengan gamblang. separuh lagi, patutnya menjelma sebagai aksi-aksi penuh atensi yang aku layangkan ketika kulitmu masih kerap mendersik ujung presensiku.
separuh lagi, kamu menjadi milikku.
namun separuh, separuh itu tidak akan datang lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar