Senin, 17 Oktober 2022

to go within

Sejujurnya, aku rasa memang kunci dari hidup tenang itu adalah mindful, dan bersyukur.

25 tahun mungkin untuk sebagian orang bukan umur yang cukup dewasa, belum mengalami banyak asam garam kehidupan. Tapi kalau boleh songong, begini-begini pun aku sudah pernah merasakan rasanya berada di lowest point, pun pernah merasakan rasanya life's actually sorta okay.

Ada banyak hal yang membawa aku ke titik terendah itu, faktor eksternal dan faktor internal, dua-duanya berkontribusi. Tapi salah dua hal yang aku rasa cukup dominan aku rasain dalam diri aku di masa-masa OTW Lowest Point itu adalah gak bersyukur dan gak mindful.

Iya, aku bahas lebih ke OTW Lowest Point-nya, bukan Lowest Point-nya itu sendiri. Karena ketika kita sudah di titik terendah, reality becomes blurry. Kadang bahkan gak tahu apa yang fakta, apa yang hanya persepsi. It was hard to think straight, let alone being mindful and grateful.

Ok, jadi kenapa aku bisa bilang kunci hidup tenang itu adalah mindful dan bersyukur? Dan kenapa aku bisa menyimpulkan dengan aku gak mindful dan grateful, aku menzalimi diri aku sendiri, membawa diri aku sendiri ke Lowest Point?

Yang aku ingat begini.
Saat itu, ada satu mindset jelek banget yang selalu aku bawa di alam bawah sadar, entah kenapa. Mindset apa? Mindset suudzon sama Allah, sama diri sendiri, sama semua orang. Suudzon, kalau hal baik yang aku dapat hari ini gak akan bertahan lama. Suudzon, kalau orang baik sama aku karena ada maunya. Suudzon, kalau aku melakukan hal baik, itu karena luck atau faktor eksternal lainnya.

Entah kenapa, sering banget ngomong ini ke diri sendiri:
"Yaudahlah dapet nilai A doang, semua orang juga bisa." "Yaudahlah hari ini gw seneng, tapi paling besok sedih lagi." "Yaudahlah gw dipuji orang, tapi paling dia gak serius."

Menurut aku, itu awal dari semuanya.

Dan mungkin suudzon itu sendiri lahir dari suatu self limiting belief lain yang lebih mengakar. Aku rasa karena pada saat itu aku pun gak percaya kalau hal baik akan dan bisa datang ke aku. Remember? I thought I was a failure.

Suudzon itu kayak bola salju. Awalnya memang kecil, cuma prasangka aja. Lama-lama, prasangka itu jadi kacamata kamu dalam melihat dunia. You start to think that everyone's against you, that everything won't go your way, when in reality... well, maybe it's not that bad.

When I was at my Lowest Point, all I could think about was how everything never went my way, how everyone was against me, how I was alone, and thus I was not worthy enough to live... somehow. Apparently, my brain pushed me to think that I didn't even have what it takes just to merely... exist.

-

Enough about Lowest Point.

Now why Mindful and Grateful?

-

Mindful itu adalah ketika kita coba untuk sadar akan diri kita secara fisik dan emosional, juga akan surrounding kita. Kita notice apa-apa aja yang sedang terjadi di hidup kita.
I have a job.
I have food.
I have a living space.
I have this laptop.
I have a smartphone.
I can fulfil my basic needs.
I feel full.
I can make coffee everyday.
When I feel hot I can turn on the AC.
I can read.
I have friends.
I have my family.

Grateful adalah ketika kita takes time to breathe life into what we have... you know? Give them meanings.
I have a job that helps me grow, that gives me the means to sustain myself.
I have friends that will keep me happy and joyful.
I have my family that will accept me as I am.
I can read so that I can keep on learning useful skills and expanding myself.
I can fulfil my basic needs, so that I can live and do anything else I set out to do.

Ketika kita melepaskan kacamata suudzon, we start to live a meaningful life.
Yep, meaningful life doesn't need to be grand... but the funny thing is, it sure will bring you somewhere far, somewhere grand.

-

Orang mungkin bisa menyalahartikan bersyukur menjadi toxic positivity, berbohong sama diri sendiri, optimis berlebihan, atau apa.

But to be honest I think there's a difference.

Just my POV, tapi bersyukur itu datang dengan gitu aja ketika kita sudah menyayangi diri kita sendiri, ketika kita sudah mampu untuk percaya kalau hal baik pasti akan dan mau datang ke kita, bahwa kita worthy untuk mendapatkan hal-hal baik itu, i.e. growth, financial independence, feeling happy, feeling joyful, feeling accepted, etc.

Optimis berlebihan pun gak baik, hidup itu ada sisi buruknya. Ada orang yang memang punya niat jahat ke kita, rezeki kita suatu hari mungkin akan diambil Allah, cinta keluarga kita mungkin gak se-"unconditional" yang kita harapkan. Hal-hal seperti itu harus kita acknowledge secara logis agar kita bisa tahu kita harus melakukan apa.

Tapi pun di saat seperti itu, kita masih punya self respect untuk percaya kalau this too shall pass, that we deserve something better and we know we can do better. Because we have enough to strive for more.

-

Pada hakikatnya, bersyukur bukan cuma soal mensyukuri nikmat materi, tapi juga mensyukuri keadaan diri kita detik ini, saat ini.

Bersyukur bahwa kita adalah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar