Kamis, 09 Juli 2020

pernah ada secuil gumpalan di sudut organ otak saya yang percaya kalau dunia itu jahat, gak akan adil untuk semua manusia. tahu-tahu, setelah 23 tahun hidup, hal itu menjadi premis utama dari apa yang saya lakukan detik ini.

coba, ada seorang bayi yang dilahirkan di keluarga harmonis, ada pula yang dilahirkan di keluarga abusif. tentu salah satu memiliki privilese yang jauh, jauh lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. yang satu disayangi, diajari, diayomi, sedangkan yang lain diabaikan, disakiti. kadang saya berpikir, apakah kalau begitu dunia adil?

ada seorang remaja yang mencintai suatu hobi, tapi ternyata realitas harus berdiri di antara keduanya. apa yang dia cintai tidak akan membuatnya bertahan hidup, kata mereka, jika dia ingin sukses dibutuhkan sumber daya segunung dan keberuntungan bertengger di pundak... yang mana punya atau tidak pun dia sangsi. lantas dia harus mencari jalan yang lebih praktis agar bisa makan dan punya atap. setelah bertahun-tahun dijalani, dia pun sadar dia telah mengorbankan kebahagiaannya. apakah kalau begitu dunia adil?

secuil gumpalan di sudut otak saya berkata, "see? dunia tidak adil."

mungkin ini hanya penyakit hati saya, barangkali. namun tetap saja kau tidak bisa memelak apa yang sebenarnya dirasakan. sedih sekali sebenarnya jika saya mengingat bahwa saya bahkan tidak lagi mencintai keluarga saya, termasuk orangtua saya. saya bahkan sangsi saya pernah merasakan itu pada mereka. saya iri ketika saya melihat orang lain yang bisa terbuka dengan orangtua mereka, sedangkan saya tidak.

saya merasa sendiri. itu saja. tanpa ada siapa atau apa yang saya cintai. saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan agar nanti bisa hidup mandiri.

teman saya bertanya kemarin malam, "apakah kamu bahagia?"

saya menjawab dengan entengnya, "enggak sih..."

---

pikiran-pikiran liar soal kematian selalu tersangkut di ujung pembicaraan tentang dunia. jika realitas dunia ini sarat akan cacat dan korupsi, lalu apa yang dibawa mati, lalu mengapa hidup?

pikiran ini yang mengembalikan saya ke kesadaran bahwa mungkin hati saya memang berpenyakit. kalau saya boleh bilang, barangkali ada luka di sana yang belum bisa benar-benar saya obati, saya biarkan di sana terbuka selama bertahun-tahun, lantas sekali-sekali dia menyebarkan rasa nyeri ke seluruh tubuh, seperti malam ini.

namun menyembuhkannya itu bukan perkara mudah, kan?

ah, buntu.

untuk sementara ini, saya sendiri dulu saja. kalau rasa nyerinya saya tularkan ke orang lain kan gak lucu?

haha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar