"Uhmm.. gak, sih, cantik itu subjektif."
"Pokoknya semua orang itu cantik."
Perdebatan pun berlanjut sampai kiamat. Alot. Seolah-olah cantik itu adalah satu karakteristik manusia yang paling berharga, yang paling pokok, sampai-sampai harus diberi "pembenaran" kalau semua orang itu cantik.
Tapi definisi cantik itu apa?
Kalau menurut orang Indonesia mungkin yang putih, kurus, dan berrambut panjang; menurut orang Inggris yang badannya curvy, berisi, dan tanned skin; menurut orang jepang, orang yang bermata besar. Terlalu banyak definisi yang berbeda membuat cantik malah kehilangan definisinya. Dan yang paling lucu, cantik itu sebuah trend. 10 tahun lalu, di Inggris, wanita-wanita berbadan curvy belum tentu dibilang cantik.
Mungkin, di garis ekstrimnya, cantik itu adalah suatu upaya pemenuhan ekspektasi orang lain yang, kebetulan, juga merupakan manifestasi dari doktrin-doktrin media massa (hehe, lagi-lagi soal uang).
Jadi, cantik itu pilihan.
Untuk menjadi menarik, banyak jalannya. Salah satunya, mungkin, dengan menjadi manusia beradab yang bermanfaat.
----
Gak bisa dielak, tulisan di atas terlalu naif. Pasalnya, manusia itu orang visual. Mereka menilai sesuai apa yang mereka lihat terlebih dahulu, terlepas dari apakah objek tersebut memiliki nilai plus lain atau enggak.
Tapi, yah, balik lagi. Mendengar penilaian orang lain itu juga pilihan, kan?
Yang penting, setiap manusia harus punya prinsip.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar