puisi itu memulai dirinya sendiri
memahat rimanya dengan lihai
menyirat nada yang kau pun tidak ingin akui indahnya
sedetik;
cepat, terburu-buru, tidak ada yang tahu
barisnya hanya perlahan memendek
lalu menghilang
dan diam
---
katanya,
terkadang
kalimat yang tidak diberi huruf kapital pada awalnya,
kalimat yang tidak bertitik pada akhirnya,
membawa lebih banyak kesengsaraan, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar