sedang bernaung di kota hujan. pukul 2 malam, dengan (selalu) kipas angin dan beberapa kertas yang harus segera dirampungkan. halo, saya belum packing :D
hari ini, nanti, jam 9 pagi sudah harus berangkat, pergi, lagi, ke ibukotanya Jawa Barat. ingat, dulu waktu sd sering banget diceritain tentang Bandung dan segala-galanya yang bikin kagum, dan kali ini malah berat pergi ke sana.
bogor, kota hujan;
hujan, tiap sore. jalanannya selalu basah tiap malam. seperti itu, dan yang dikangenin memang itu. hujan.
dan keluarga masih sama. masih se-strict itu. walaupun bahagia juga, kembali ke akar, kembali ke lingkungan yang membesarkan secara harfiah. adik sudah besar. padahal baru pergi 1 bulan, tapi kenapa kerasanya kayak melewatkan 8 tahun worth of his puberty :") kakak di perantauan juga, pulang 6 bulan sekali.
rumah... memang rumah. dulu waktu kecil selalu dengar frase "rumahku, istanaku" dan dengan imbisilnya berceloteh, "sok tahu, rumahku gak kayak istana, rumahku kecil". hiperbolis sih memang, kata "istanaku" itu. tapi kalo boleh diralat, "rumahku rumahku" karena rumah itu adalah rumah, dan rumah itu.. menurutku sebuah kata yang sangat down to earth, sangat humble, apa ya? sebuah akar, sebuah asal dari seseorang. bukan istana; rumah itu adalah.. apa yah? rumah. he. he. gak bisa menemukan kata yang bisa mendeskripsikan rumah selain rumah.
rumah: hujan-orangtua-adik-kakak
kota Bogor, 27 September 2015, pukul 2.17 malam, izin mengakhiri post tak berfaedah ini, mau packing :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar