Kamis, 16 April 2026

expose

Ada novel berjudul "By The River Piedra I Sat Down and Wept". Tentang kisah romansa dua manusia yang sepertinya bisa conquers everything. The guy was a priest, the girl wasn't much of a believer. Then again, they were childhood friends, they got reunited... and somehow love & passion conquered all.

The intensity of it all felt so convincing to me.

Tapi aku juga baca buku lain, berjudul "Alasanku Menikahimu". Dan menurut ayat-ayat Al Quran, tujuan menikah itu untuk merasa damai. Sakinah, mawaddah, wa rahmah.

--

Ya, yang pertama memang terasa meyakinkan, tapi yang kedua itu adalah the real deal.

--

Oke.

Aku tadi baru aja ngobrol dengan teman lama. Awalnya aku cerita pengen ke psikolog, tapi ya terus jadi cerita soal romansa ini. Dia tanya, "Kenapa sih kamu selalu punya cowok?"

First of all, pertanyaannya agak weird karena aku gak pernah in a relationship seumur hidup. Tapi setelah dipikir-pikir... di setiap fase hidup (sebelum ini) selalu ada seseorang yang aku consider "dekat", lawan jenis.

Percakapan ini bikin aku mikir. Oh, ya, hm? Kenapa ya harus selalu ada mereka dalam setiap fase hidup? Aku ingat-ingat awal kedekatannya, apa yang aku cari, apa yang mendorong aku untuk terbuka sama mereka.

Tiba-tiba aku sadar sesuatu.

Sebenarnya, tujuan pertamanya itu positif. Mereka-mereka ini selalu adalah seseorang yang lebih dari aku, someone I aspired to be. Di kuliah, ada seseorang yang secara akademik bagus; aku pengen dekat karena dengan ada di sekitar dia aku akan terdorong untuk menjadi lebih baik. Begitu juga di kantor; aku mendekati orang-orang yang apabila aku ada di dekat mereka, aku akan terdorong untuk menjadi lebih baik dari versi aku sebelumnya.

Positif, sampai di suatu titik di mana perasaan masuk ke dalam equation and I don't know how to navigate that kind of complexity.

Di kepalaku, mereka itu adalah pemantik untuk aku bisa menjadi orang yang lebih baik dari fase aku sebelumnya. But here's the catch. Aku menempatkan mereka pada fase spesifik di mana mereka bisa contribute untuk growth aku. Once I outgrow the phase, I outgrow them.

Semuanya tiba-tiba jadi conflicted. Perasaan itu ada, tapi aku selalu ada dorongan untuk escape. No, maybe it's not childhood wounds or attachment issues (or maybe it is? to some extend?). It's more so a twisted idea of what a "partner" should be. In my head, they should be there only for their respective specific contribution for my development, not for the long run.

Oof.

--

Ada satu orang yang saat ini sebenernya sudah gak ada lagi di hidupku. Mungkin nongol di instagram, tapi ya hanya sekadar itu--viewer story instagram aja.

I used to talk to him almost everyday. At 5 PM after work we would have a call.

"Gimana Mas hari ini?"
"Capek."

The usual opening conversation.

Untuk Mas ini, perasaan yang muncul lebih prominent dibandingkan orang-orang yang lain. Ya meskipun, intensitasnya aja yang beda, tapi pattern-nya sama dengan pattern yang sebelumnya.

Perasaan itu ada, tapi selalu pengen escape.
Akhirnya aku beneran escape saat itu.

Menyesal? Ada. Saat itu aku pikir that was the right decision. Of course. The religious factor and whatnot. But guess what? Tetap menyesal.

Aku pikir penyesalan itu akan hilang seiring waktu. Oh, it hasn't passed.

Menyesal karena aku tidak pernah dengan proper honor the connection, the feelings. I was just ... gone.
It was just gone.

--

I can't go back. I don't even want to go back to how things were.

You see, now I understand why it had to go that way. 

Dulu, ada perasaan marah juga, pernah, ke Allah. Kenapa aku dipertemukan sama seseorang yang aku begitu suka, tapi tidak bisa menjadi pasanganku? Kenapa timingnya sangat off? Kalau itu kejadian di hari ini, mungkin at least aku bisa honor the feelings dengan proper, gak escape, dan lebih fair.

Well... even mistakes are blessings in disguise, kan ya?

Sekarang aku percaya ini semua karena Allah ingin menjaga aku dari pattern aku sendiri. Dia menempatkan aku di situasi di mana pattern itu tidak akan ter-activate. So I was forced to do life, and to do it well, without activating my pattern.

Beberapa waktu berlalu. Sedikit-sedikit kesadaran itu masuk. Loh, ternyata bisa? Ternyata selama ini aku gak perlu pemantik (dalam bentuk lawan jenis) untuk bisa tumbuh?

Bukan mengecilkan peran orang-orang terdekatku sebelumnya. Peran mereka besar, tapi aku yang salah menempatkan diri. Aku yang salah, berpikir seolah-olah tanpa mereka growth tidak akan ada.

--

Rewiring connection.

So, what does it really take to be a lifelong partner for me?
What does it mean for someone to not be there just to serve a specific purpose, but to be a partner through life and death?

That is something... I will get back to. I'll get there, I promise.

For now my homework is to just:
honor my feelings.
be fair.
but don't activate the pattern.

I can figure it out, I promise.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar