diurai satu-satu dulu, they said. so now i will start telling you what has been on my mind these last couple of weeks.
jadi, gue takut akan masa depan. gue sangat takut kalau nanti di umur 30 gue belum bisa mandiri, belum bisa menyenangkan orangtua, belum punya pasangan. gue takut gue gak bisa mencapai itu semua karena... di kepala gue, gue itu... 'rusak' dan harus 'dibenerin'. sayangnya gue gak tau cara benerin diri gue sendiri gimana. paham gak? intinya, gue takut gue yang rusak ini gak bisa mencapai deadline mandiri-umur-30 itu.
"beban itu cukup berat loh, ris. coba dilihat, itu beban lu memang benar-benar lu yang taro di pundak lu, atau orang lain yang taro?" kata seorang teman.
and i guess he's right. gue belum meng-assess itu sama sekali...
obrolan itu bikin gue sadar kalo gue harus coba lihat masalah ini dari perspektif lain. mungkin ketakutan itu ada karena cara pandang gue terhadap lingkungan vs diri sendiri yang belum bener. mungkin ketakutan itu ada karena gue belum mengerti diri sendiri dan orang lain dan keadaan di sekitar yang closely involved di hidup gue sampai sekarang.
gue gak perlu selalu membabibuta menyalahkan diri gue. instead of membabibuta gitu dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya coba frameworknya dibenerin, coba lebih objektif dan lebih runut lagi dalam berpikir.
coba assess, apa sih yang sebaiknya lu lakukan saat ini, ris?
kenalin diri lu sendiri mungkin bisa jadi first step yang baik. coba kilas balik ke masa lalu, what made you like this? is this your real self, or are you hiding something that you otherwise want to show? what do you want to be?
what career do you want? how do you get there?
how is your relationship with your parents? what can be improved?
what kind of person do you want to be with for the rest of your life? what is love to you? what is family to you?
and remember, slow progress is still progress no matter what.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar