sejauh ini, gw lebih suka "bersahabat" dengan diri gw sendiri.
yang bener-bener tahu siapa gw, mimpi gw, masalah hidup gw itu ya cuma gw. gw berteman dengan orang lain, tapi lebih untuk tujuan bertukarpikiran, untuk merasa ada seseorang yang bisa diajak ngobrol, tertawa, mengeluh, dan lain-lain. mereka sebenernya gak tahu siapa gw di balik ketawa-ketiwi dan obrolan superficial bertopeng "deep" every now and then. bukan karena mereka gak peduli, gwnya aja gak mau repot-repot untuk terlalu men-disclose segalanya tentang gw.
edgy af, tapi ya gitulah.
tapi barusan seorang teman dekat, salah satu teman terdekat gw, bilang gini, "aku gak terlalu nyaman kalo orang malah nyesuaiin diri yang gimana-gimana, pertemanan gak akan gimana-gimana kok. kalo aku gak sreg biasanya aku akan ngomong. soalnya teori pertemanan aku, ris, teman itu tentang kita menjadi diri sendiri, dan akan terjalin secara natural. sejauh kamu berusaha menjaga itu udah aman, aku sangat hargain."
tiba-tiba gw jadi sadar, kenapa gw lebih suka "bersahabat" dengan diri gw sendiri.
gw selalu punya suatu ekspektasi berlebihan soal hubungan gw sama orang. untuk hubungan yang dalem dan terbuka, gw punya suatu standard kalau hubungan ini harus A, B, C orangnya harus men-treat gw X, Y, Z. gw baru sadar kalau standard ketinggian itu yang membuat gw gak terlalu terbuka sama orang lain.
ternyata berteman itu bukan sesuatu yang big deal, namun di saat yang sama sesuatu yang dampaknya signifikan buat hidup. teman bukan ada untuk membuat gw semata-mata merasa feel good, tapi lebih dari itu, membuat gw merasa menjadi diri gw sendiri...
what did i do to deserve that kind of friend, oh God...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar