sudah dua tahun, namun apakah yang sudah dilakukan benar-benar ada hasilnya?
sudah dua tahun.
however we all know that saying that goes 'to each their own'. so ... it's understandable?
.
.
saya belum bisa tidur sejak semalam. otak berputar memikirkan masalah yang sudah lalu, memikirkan juga soal kekhawatiran tentang ke depannya saya bagaimana. 2019 was my worst year. i didn't know that i could get my heart broken three times in three different ways during the same time span.
and in 2020 i failed to mend all those ... uhh ... wounds. saya punya hansaplast sih, tapi itu gak cukup, 'kan? so it still stays open. even now, if i'm not occupied with anything, i still catch myself reminiscing about all that.
jam 3 pagi tadi saya mengobrol dengan audio recorder di smartphone saya. dan bahkan satu jam tidak cukup untuk menguraikan semua yang saya pikirkan akhir-akhir ini.
saya punya teori soal solusi untuk meringankan pikiran-pikiran ini, agar saya bisa lebih produktif dan fungsional. after all, it is what's expected of me, right?
tapi mau berteori bagaimanapun juga saya masih belum bisa tidur dengan tenang. entah karena hormon apa ... tapi setiap malam jantung saya selalu berdegup sedikit lebih cepat ... aduh, kayak cerita wattpad, tapi beneran ...
mau nangis juga susah.
.
.
entah ini adalah yang saya butuhkan atau yang saya inginkan, tapi ... releasing all my problems seems tempting now. kadang tergoda untuk oversharing di sosmed, apalagi ketika lihat tweet kakak kelas yang dengan pedenya cerita soal bagaimana dia terapi di psikiater atau ketika lihat orang update tentang obat yang dia dapat dari psikiaternya.
oh, jadi sadar. mungkin bukan cuma sekadar releasing all my problems, ya?
mungkin ... saya butuh ke terapi?
a tapi mahal.
h3h3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar