kirana bunga mawar pernah membuatku lupa akan pokta bunga matahari. baru aku tersadar ketika semalam jemariku tergurat durinya. aku meringis, bagaimana bisa?
bagaimana bisa? padahal, sudah dua puluh dua tahun aku tinggal di antara tangkai-tangkai bunga matahari, berbagi siang dan malam, tumbuh berdamping-dampingan. dari lubuk hati, aku tahu aku menyayangi bunga matahariku lebih dari apapun.
mungkin aku tergoda; mawar memang selalu cantik, selalu menawan, selalu memenjarakan rasa hati siapapun yang bertemu pandang. siapa pula yang bisa tahan? lihat saja lipatan mahkotanya! anggun, bak nyawa dari dewi terjuita sedunia.
oh Tuhan, betapa tololnya.
aku hanya membela diri sendiri, lagi-lagi. tidak ada argumen valid untuk menjelaskan perselingkuhanku, ketidaksetiaanku. aku hanya tolol, itu saja.
aku harus kembali. aku akan kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar