Jumat, 31 Mei 2019

aku mengenal seseorang di dalam diriku, seseorang yang selalu ingin berada satu langkah di depan garis, yang selalu ingin melompat ketika orang lain berlari. aku mengenal dia, lalu memutuskan untuk berkarib dengannya.

namun dia tidak pernah menampakkan dirinya. dia ada, namun kau mungkin tidak akan memperhatikannya. dia selalu terselip di antara konversasi berarti, selalu terselip di tengah-tengah persimpangan. dia selalu bersembunyi di balik bintang, di atas awan.

hingga beberapa hari yang lalu.

hingga beberapa hari yang lalu, aku berusaha mengajaknya menemaniku di atas bumi. setelah puluhan tahun, kaki mungilnya akhirnya menginjak lumpur yang aku namakan 'realitas'.

dan sadarlah dia, ternyata, cukup mudah untuk merromantisasi daratan dari berribu kilometer di atas sana, cukup mudah untuk melihat dunia dengan tirai biru ketika hanya ada cahaya bulan di medan visualnya.

namun apalah arti dunia dengan tirai biru, jika kau bisa melihat dunia dalam rupa adanya? mengapa harus menapis realitas, demi romantisasi yang kau tahu tidak akan mampu menopang berat tubuhmu?

untuk seseorang di dalam diriku, aku telah menyematkan cincin di jari manis kirimu, telah meminangmu dengan sepenuhnya kesadaran.

maka, temani aku.
temani aku di atas bumi dengan permadani hijaunya,
dengan langit hitam yang menaunginya,
dengan apa-apa yang pokta di antaranya.

kau satu-satunya perhiasanku,
maka utuhkan pijakanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar