Senin, 29 Oktober 2018

seperti lembayung senja yang menggantung di timur sana;
seperti pekat kafein yang menculik penuh renjana;
seperti hujan yang menawarkan pertiwi ukup tanpa lenggana;

seperti padang yang merindu kirana sang oase;
seperti liris lagu romantis tanpa kamuflase;
itu semua klise.

bencilah aku dengan keklisean.
hingga di suatu purnama bulan,
kamu menjera aku, Tuan,
ah, sialan.

senyum kamu itu terlewat pokta, memberiku bumi selebar sipit mata;
tanpa sadar aku kemudian berdansa di atasnya;
dengan sukaria aku lantas melebarkan semesta;

aku tak ubahnya padang yang merindu kirana sang oase;
kamu tak ubahnya liris lagu romantis tanpa kamuflase;
aku, kamu: klise.

cintalah aku lalu dengan keklisean.
karena kamu hajar aku dengan senyuman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar