mungkin bukan tentang "kalo laki-laki bisa telanjang dada, why can't we?" "kalo laki-laki bisa jadi imam, why can't we?" tapi lebih ke "sebagai sesama manusia, aku juga ingin bekerja dan memiliki edukasi dan, seperti kamu, dihargai karena hal itu"
jadi, kenapa kalau aku mencoba berpendidikan sampai S3, kamu marah akan hal itu? tidak usah berkoar-koar kalau ini bukan sesuai fitrahku, mungkin kamu cuma dilahap egomu sendiri. aku percaya kita harus diberi hak yang sama, diberi kesempatan yang serupa. dan di masyarakat perempuan tidak pernah berada di bawah laki-laki. premis "wanita itu di dapur" adalah sebuah generalisasi yang jahat, dan "laki-laki itu harus cari nafkah" juga sebuah kalimat yang sangat memberatkan. kita sama-sama manusia, i'm not some kind of low-life creature, jadi hargai apapun yang ada di kepalaku.
lalu kenapa kalau aku sedang struggle dalam menutup tubuhku, kamu marah karena kamu anggap aku "menggodamu"? asal kamu tahu, aku hidup bukan untuk kamu, jadi tolong selesaikan kewajibanmu dalam menjaga nafsu, baru mulai menceramahiku soal tutup-menutup aurat. aku mengerti kewajibanku, aku harap kamu pun mengerti kewajibanmu.
***
di rumah tangga, meski begitu, aku masih percaya bahwa suami berada "di atas" istri. tapi bukan berarti tidak ada respect di antara keduanya. harus selalu ada diskusi, musyawarah, dan persetujuan yang selalu berakar dari "aku menghargai kamu sebagai partnerku".
***
kita setara, tapi bukan berarti kita sama.
aku bisa menjadi wanita career yang memimpin, tapi tugas utamaku adalah (kelak) menjadi ibu dan anak orangtuaku. kamu bisa menjadi lelaki mapan yang disegani banyak bawahan, tapi tugas utamamu tetap menjadi ayah dan anak orangtuamu.
dan seharusnya women empowerment itu tentang mengerti bahwa kita berbeda, tapi setara. bahwa fisik dan hati kita tidak selalu sama, tetapi pada dasarnya, kita adalah manusia.
berikan kami kesempatan yang sama untuk berkarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar