meluncur, halus.
naiki kereta larut malam itu--ya, kereta yang berwujud bait kata-kata itu--izinkan ia membawamu pada stasiun terakhirnya yang tersembunyi. stasiun yang kelam sekaligus terasa seperti rumah. stasiun yang dingin, namun familiar. stasiun itu bernama perasaanmu.
kereta itu adalah puisimu.
.
.
.
saya selalu suka dengan puisi. kata-kata sarat majasnya membuat emosi saya tergelitik, membuat saya meneliti perasaan saya. ketika saya membaca, saya tertarik ke dalamnya, menjadi satu dengan bait-bait itu, menjadi tokoh utama dalam selancaran kalimatnya yang membuai. ketika saya menulis, saya menumpahkan diri saya, seketika saya melucuti mekanisme pertahanan bullshit itu, menelanjangi diri saya, menjadi saya.
tidak usah di-state lagi seharusnya, kalau saya sangat suka puisi.
saya suka kata-kata.
mereka mendeskripsikan hidup, mereka membuat visual-visual kompleks itu menjadi suatu rangkaian huruf yang sederhana dan rendah hati--menjadi sesuatu yang indah dan menarik dipandang mata. mereka mengail kesadaran saya, membuangnya jauh-jauh, dan hanya menyisakan nurani untuk bekerja.
karena ketika kita menulis, kita menulis dengan hati, bukan dengan logika, iya kan?
kalau kamu, bagaimana?
apa yang kamu sukai?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar