pekat itu tak kunjung padam,
pekat yang selubungi hatimu itu.
Yang Mulia, untuk siapakah penolakan ini?
Yang Serba-Maha, mengapa kau tak acuhkan bilamana:
Tuan Jantung berdegup kencang, atau,
Nyonya Pupil melebar dan menghitam, atau,
Kala lekukan manis itu terbentuk di antara kedua bibirmu?
Untuk siapakah pengabaian itu;
untuk siapakah pekat itu?
dan kepadamu yang menari-nari di sela api,
dan kepadamu yang melenggok pergi di balik lembayung yang kucintai,
bisa jadi,
hanya bisa jadi,
aku menolak untukmu.
--------------------------
menceritakan tentang seseorang yang menolak mempunyai rasa untuk seseorang tertentu yang sudah pergi.
-------------------------
sponsored by keyboard yang sudah tidak rusak lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar