Senin, 11 Juli 2016

aku menolak

sang pekat itu temaram,
pekat itu tak kunjung padam,
pekat yang selubungi hatimu itu.

Yang Mulia, untuk siapakah penolakan ini?
Yang Serba-Maha, mengapa kau tak acuhkan bilamana:
Tuan Jantung berdegup kencang, atau,
Nyonya Pupil melebar dan menghitam, atau,
Kala lekukan manis itu terbentuk di antara kedua bibirmu?

Untuk siapakah pengabaian itu;
untuk siapakah pekat itu?


dan kepadamu yang menari-nari  di sela api,
dan kepadamu yang melenggok pergi di balik lembayung yang kucintai,
bisa jadi,
hanya bisa jadi,
aku menolak untukmu.

--------------------------
menceritakan tentang seseorang yang menolak mempunyai rasa untuk seseorang tertentu yang sudah pergi.
-------------------------
sponsored by keyboard yang sudah tidak rusak lagi





Tidak ada komentar:

Posting Komentar