Selasa, 17 Desember 2013

Uyuy

Many things left unsaid, so many things left unsaid. It's so sad that it turns out I find everything extremely funny; just... pathetic. So maybe I'll just spit everything out here? Well this is mine after all, and besides, who would read this anyway?

First of all, I feel like I'm not worth it. I don't deserve to be this, I don't deserve to be that. I'm not worth it. And now I'm just full of disappointments, I'm not happy about myself, especially. Why do I have to be this dumb? Why do I have to be this stupid? Everybody knows what's up.. but me. And it's just no more than pathetic. I try to cheer myself up, but oh well. I can't talk to anyone about this, I mean, yes, maybe I'm moody and everything, but this is just too deep to be something you talk about with even your dearest friends (doesn't mean I don't trust them, though, I just... well, I don't know). I know I shouldn't feel this way and sometimes the feeling is forgotten somehow, sometimes it returns right away. I don't feel like I deserve to overcome anyone.

I have to be better. I ought to be.

Second of all:

warning: please, if you happen to be lost or something in here, skip this, I'm not by any means responsible to clean up your vomit



Hari ini kembali aku mengenang senyummu. Kembali aku memutar balik gelakan renyahmu yang sayup kudengar di antara bisingnya putaran mesin kipas angin. Mungkin hanya sebatas ini, mungkin hanya sejauh ini tanganku bisa menggapaimu. Bagaimana... kau begitu tinggi, Kasih, aku di bawa sini.

Detik itu entah bagaimana aku merasakannya. Detik itu... aku bahkan tidak bisa mengingat detilnaya. Kau jauh di sana, membumbung bintang yang satu persatu kauhitung cerlangnya, sebelum kemudian kaupetik dengan jemarimu yang tegas. Dan saat itu aku tahu aku rindu. Rindu pada bintang, ya. Rindu pada cerlangnya, ya. Aku pun rindu padamu. Detik itu, aku merasakan sedikit ledakan yang dengan jurus anehnya, segera melangsungkan sinyal elektrik menuju otakku.

Detik itu, aku sadar aku suka kamu.

Kau bukan orang yang pendiam. Namun selalu aku yang membuka percakapan, dan beberapa saat sesudahnya, terkadang aku membuatmu tersenyum entah bagaimana caranya. Dan saat itulah, aku tersadar awan pun bisa berhenti berarak. Empat perkara yang aku cerna dari lengkung bibirmu saat itu: klise, sederhana, dramatis, apa-adanya. Aku menemukan diriku pada limbo, berputar tak pasti menerjang dimensi waktu yang keras menghantam--karena senyummu. Aku perempuan, dan aku suka senyummu.

Aku tidak menuntut, Kasih. Hanya melihatmu senyum itu aku senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar