Aku bahkan tak merasa, aku tak peka. Aku melihat, tapi aku tak menulis. Karena akulah, si pena tanpa tinta. Yang mematung dalam sudutku, pada tepi kalian semua. Bukan tepi ruang, bukan pula pada tepi kotak alat tulis-mu, tapi pada tepi pandangmu. Sama sekali tak terjamah, karena, hei, siapa juga yang peduli?
Tidak. Aku adalah pena, yang seharusnya menyurat sejarah. Aku adalah pena, yang seharusnya melenggang lincah di atas perkamen kosong, yang kerap kali kalian sebut kehidupan. Dan, yah, warna tintaku bisa kalian sebut takdir, wahai manusia.
Terkadang, aku bertanya, mengapa mereka semua bisa melakukan apapun, sedangkan aku tidak? Bodoh memang, ya, kau bisa bilang seperti itu. Bahkan sebuah kanvas suci pun mampu disulap menjadi sebuah seni, oleh mereka. Sesuatu yang tak pernah bisa kulakukan.
Mereka tahu, tanggap. Sedangkan aku? Kalian bisa lihat aku di tepi, jika kalian peduli. Meringkuk bagaikan beberapa dari kalian, wahai manusia, yang tak memiliki tinta warna seindah beberapa dari kalian yang lain.
Karena aku, adalah sebuah pena tanpa tinta. Yang merindukan seseorang untuk menjamahku, untuk memberiku rasa yang bisa kukecap, yang memberikan cahaya pada ujungku yang buta.
Aku tak menulis. Aku tak bergoyang. Hei, manusia, beratkah hatimu jika aku bangkit, dan mencari tintaku sendiri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar